Pendengar yang mencoba bercerita.
2 hari yang lalu, saya masih mengenakan baju berlapis-lapis, dengan stocking tebal dan kaus kaki, dengan kelingking kaki yang membengkak diiringi nyeri yang datang dan pergi, terus mengigiti kulit bibir yang mengelupas secara konstan akibat udara kering, sambil tak henti mengecek handphone saya untuk koneksi wi-fi gratis.
Ini liburan pertama saya mengunjungi negara lain. Cap pertama di paspor saya langsung di benua Eropa. Beberapa menganggapnya istimewa, saya menganggapnya sebagai perkenalan. Perkenalan saya dengan dunia luar yang selama ini saya nikmati melalui internet.
Wina dan Praha. Dua negara yang tak pernah terlintas di kepala saya akan bisa saya kunjungi. Saya bukan seorang pemimpi yang hebat, juga tidak pernah merasa seambisius itu untuk bermimpi terlalu tinggi. Kesempatan yang diberikan dari kantor pun saya sambut dengan ekspetasi rendah, tidak ada riset mengenai tempat-tempat yang wajib saya kunjungi, atau restoran yang wajib saya coba. Wina dan Praha bekerja sama, menjadi tuan rumah atas tamunya yang hanya berharap diberi aneka kejutan.
Saya dikelilingi dengan orang-orang yang menjadikan traveling sebagai bagian dari hidupnya, sementara saya menikmati posisi sebagai seorang pendengar yang baik, penggemar setiap foto-foto yang mereka bagi, yang diakhiri dengan satu kalimat “you should visit this place!”, yang selalu saya jawab dengan nada skeptis, “someday”. 5 hari yang saya habiskan di sana adalah 5 hari yang mengubah pandangan saya, dari seorang pendengar menjadi seorang pencerita.
Saya menyukai perubahan ini. Kembali menjadi anak kecil yang baru mengenal dunia. Saya menyukai wajah-wajah baru yang saya temui, kebiasaan baru yang saya pelajari, makanan baru yang saya cicipi, pemandangan baru yang saya nikmati, bahasa baru yang saya gunakan, mata uang baru yang saya habiskan. Udara baru yang saya hirup mengisi paru-paru saya, dan pengalaman baru yang saya alami mengisi sisi lain kehidupan saya.
Di hari terakhir saya di kota Praha, untuk pertama kalinya saya bersikeras untuk pulang ke hotel menggunakan trem, dan bahkan berani bersikukuh untuk pergi sendiri jika teman-teman saya tetap memilih menggunakan kereta bawah tanah.
Naik trem adalah satu mimpi kecil yang berubah menjadi ambisi, dan berhasil saya penuhi.
Perjalanan pulang saya habiskan dengan berbagai mimpi yang teronggok di sudut pikiran, sambil bertanya-tanya jika saya bisa mengubah mereka menjadi ambisi hidup saya.
Then i know i have the strength to make it happen. Ain’t we all?

